kailaziz2014@gmail.com

087881181566 / 08117150150

UJI ADRENALIN DI POKHARA oleh Maria Sukrisman

UJI ADRENALIN DI POKHARA oleh Maria Sukrisman

_ 10

Oktober 2017

UJI ADRENALIN DI POKHARA oleh Maria Sukrisman

Pokhara adalah destinasi favorit penggemar petualangan alam bebas— lembah jelita dihiasi danau dan dikitari Pegunungan Himalaya yang pucuknya selalu bersalju. Saya, Maria Sukrisman, datang untuk ikut memuja alam sekaligus menguji adrenalin.

Di awal Maret lalu, tiba-tiba muncul rasa rindu untuk bertualang ke Nepal, sebuah negeri indah di atas awan. Bukan hanya karena musim semi sudah menjelang, tapi juga karena bertepatan dengan diselenggarakannya Holi, sebuah festival budaya yang menarik. Bersama seorang teman, saya berangkat ke Nepal.

Ada empat kota yang kami kunjungi: Kathmandu (ibu Kota Nepal), Bhaktapur, Nagarkot, dan Pokhara. Namun, kali ini saya hanya ingin menulis tentang Pokhara. Dari Kathmandu, selama 30 menit saya naik pesawat terbang kecil berbaling-baling dengan kapasitas 20 penumpang menuju Pokhara. ini pengalaman pertama saya naik pesawat sekecil itu—jujur saja, ada juga rasa deg-degan di hati. apalagi sesaat setelah pesawat mengangkasa, hujan turun lumayan deras. Namun pemandu wisata saya menyarankan agar saya memesan kursi di sisi jendela agar bisa menikmati apa yang disebutnya “the best mountain view.”

Untungnya hujan tak menghalangi keindahan pemandangan alam dari ketinggian. Dan apa yang tersaji di luar jendela memang sungguh spektakuler. Apalagi ketika pesawat kami melintas di atas gugusan Pegunungan Himalaya yang bertudung salju abadi. Begitu gagah dan megah, sehingga saya mendadak merasa begitu kecil dan tak berdaya di tengah kemegahan alam tersebut. Tak lama, bagai disulap, tiba-tiba hujan berhenti dan cuaca kembali cerah dengan langit biru jernih. Semangat saya yang sempat meredup kembali bergejolak.

Pokhara lekhnath—atau biasa disebut Pokhara saja—merupakan kota terluas di Nepal dan berlokasi sekitar 200 kilometer di sebelah barat Kathmandu. Yang membuat kota berbentuk lembah ini sangat istimewa bagi wisatawan adalah karena di wilayah ini berdiri dengan gagahnya annapurna range atau gugusan Pegunungan annapurna— bagian dari Pegunungan Himalaya. Dari banyak puncaknya, tiga di antaranya (Dhaulagiri, annapurna, dan Manaslu) termasuk dalam 10 puncak tertinggi di dunia.

Danau Phewa adalah daya tarik Pokhara yang lain. Ketika udara cerah, annapurna range yang berpuncak salju terpantul di permukaan danau berair jernih itu. Saking luasnya, danau air tawar yang terhampar di dasar lembah ini terbentang di tiga kota, yaitu Pokhara, Sarangkot, dan Kaskikot. Di musim semi dan panas, banyak wisatawan beraktivitas di danau ini, di antaranya berenang atau naik perahu.

Menjejakkan kaki di Pokhara, saya disambut udara sejuk musim semi yang nyaman mengelus kulit. Pepohonan belum sepenuhnya menghijau, sebagian masih setengah gundul sisa musim dingin. Yang langsung terasa di hati adalah kehidupan yang sangat teratur, damai, dan nyaman. Tidak heran banyak wisatawan internasional berkunjung ke sini khusus untuk melakukan kegiatan melatih jiwa dan raga, yaitu yoga. Budaya Hindu— agama mayoritas penduduk Pokhara—memang terasa kental di sini. Di beberapa sudut kota saya menemukan pendeta Hindu yang sedang fokus bermeditasi. Bagi yang senang bertualang di alam bebas, Pokhara juga merupakan basis trekking menuju ke annapurna Circuit, yaitu jalur trekking terpopuler di dunia, yang menuju ke kaki Himalaya. Ada berbagai jalur trekking—dari yang hanya beberapa jam hingga yang memakan waktu berhari-hari.

Saya makin jatuh hati pada Pokhara begitu menyadari bahwa pusat kotanya ternyata berdekatan dengan Danau Phewa. Saya bukan hanya bisa menikmati pemandangan perahu kayu warna-warni yang memenuhi tepian danau, tapi juga gugusan Pegunungan Himalaya yang bagaikan lukisan alam.

Rangkaian acara perjalanan saya ke Pokhara awalnya termasuk mengikuti trekking dengan destinasi yang paling populer dan ringan, yaitu
ke Ghorepani Poon Hill. Namun, apa daya, tepat pada hari H, kaki saya mendadak cedera. Padahal jalur trekking itu harus menaiki seribu anak
tangga. Duh, rasanya saya ingin menangis karena gemas dan menyesal. untuk menghibur hati saya, pemandu lalu mengubah agenda agar kami tetap dapat melihat yang terbaik dari Pokhara, sekaligus merasakan kehidupan dan budaya lokal. Kami lantas dibawa ke sebuah desa tua bernama Dhampus serta ke Bukit Sarangkot.

Di masa lalu, Pokhara merupakan rute penting bagi perdagangan antara Cina dan india. Pada abad ke-17, Pokhara merupakan bagian dari Kerajaan Kaski, yang berada di bawah pemerintahan Chaubise rajya yang menguasai 24 kerajaan di Nepal. Meskipun secara fisik penduduk Pokhara (juga penduduk Nepal pada umumnya) berparas campuran antara India dan Cina, tradisi Hindu India tampaknya lebih mendominasi. Hal itu sangat terlihat dalam Festival Holi yang saya saksikan di Pokhara—festival ini juga diselenggarakan di kota-kota lain di Nepal. Holi adalah festival musim semi yang dirayakan di India dan Nepal. Holi sering pula disebut sebagai festival warna-warni atau festival cinta, karena intinya merayakan kemenangan kekuatan baik terhadap kekuatan jahat. Dan karena muda-mudi saling bertemu di festival ini, banyak yang kemudian menemukan jodohnya di sini. Yang unik dari festival ini adalah warga saling melempar serbuk warna-warni di jalanan. Mereka juga melempar serbuk kepada siapa saja, termasuk para wisatawan yang dengan senang hati ikut bergabung, sehingga wajah, tubuh, rambut, serta pakaian mereka jadi belang-bonteng. Karena kaki saya sedang sakit, saya memilih untuk menyaksikan kemeriahan itu dari dalam mobil saja.

Seperti diceritakan sebelumnya, untuk menghibur saya yang gagal pergi trekking, saya diajak ke Bukit Sarangkot. Kami harus berangkat pagi-pagi sekali dari hotel agar bisa mengejar matahari terbit di puncak bukit ini. Meskipun tetap harus melakukan trekking, jalurnya tak seberat jalur menuju Ghorepani Poon Hill.

Energi positif pagi hari membuat saya berangkat penuh semangat. Meskipun hari masih gelap, cuaca terlihat cerah, tanpa hujan dan kabut. Perjalanan menuju Bukit Sarangkot ditempuh dengan mobil selama satu jam, dilanjutkan dengan menaiki 250 anak tangga untuk mencapai ketinggian 1.600 meter. Di sinilah—di sebuah area terbuka yang masih sangat alami—kita bisa mendapatkan tempat terbaik untuk menikmati pemandangan matahari terbit yang terindah. Angin sepoi-sepoi segar dan awan-awan yang bergerak lincah di bawah sana sungguh merupakan pemandangan yang sangat menakjubkan, sementara matahari pagi perlahan-lahan menampakkan diri dari sisi timur. Meski di pagi buta, ternyata banyak wisatawan dan penduduk setempat ikut memadati puncak bukit. Dengan kamera masing- masing, mereka sibuk mencari sudut terbaik untuk mengabadikan munculnya matahari sekaligus panorama annapurna range. Saya tak puas-puasnya menikmati pemandangan matahari terbit di antara puncak-puncak gunung bersalju spektakuler itu. 

Tidak jauh dari sini, di hari lain kami berdua juga nekat mencoba salah satu kegiatan yang menantang adrenalin, yaitu paragliding. Ah, rupanya bukan hanya kami yang tertantang. Tak sedikit wisatawan lain yang berminat menguji adrenalin dengan meluncur menuruni bukit hingga ke sisi danau dengan parasut. Walaupun sudah berkali-kali diyakinkan bahwa kegiatan ini sangat aman karena kami akan ditemani secara tandem oleh pilot-pilot berpengalaman, tak urung hati saya kebat-kebit. Maklum, ini kali pertama saya mencoba paragliding.

Melayang-melayang di udara selama 30 menit itu ternyata sangat menyenangkan, karena dikendalikan menurut arah angin dan ketinggian. Dengan biaya sekitar 100 dolar AS per orang, kami dijemput naik minibus dari hotel menuju lokasi bukit. Pilot juga menyiapkan semua peralatan terbang plus kamera GoPro untuk memotret dan merekam kami dengan video. Kami tinggal duduk santai seperti main ayunan di udara di ketinggian sambil menikmati pemandangan bukit hijau dan danau berair biru jernih, serta payung-payung peserta paragliding lain yang berwarna-warni. Kegiatan ini juga dapat dilakukan di musim dingin. Bahkan katanya, justru musim dingin merupakan saat terbaik untuk main paragliding di Pokhara.

World Peace Pagoda adalah objek selanjutnya yang saya datangi. Ini adalah sebuah stupa lambang perdamaian dunia yang dibangun oleh Pemerintah Jepang. Untuk mencapai tempat ibadah umat Buddha yang terletak di atas bukit ini, kita bisa menggunakan perahu melewati danau, atau berjalan kaki. Dari kaki bukit, diperlukan waktu 20 sampai 30 menit berjalan kaki dan menaiki anak tangga. Tapi perjuangan anda tak bakal sia-sia, karena pemandangan di sepanjang perjalanan sangat memukau. Jika lelah berjalan, kita bisa bersantai sejenak di warung kopi. Di elite Café kami beristirahat dan berleha- leha sambil menikmati santap siang dengan pemandangan Kota Pokhara dari atas bukit. 

Kuliner di Pokhara lumayan cocok di lidah saya. Makanan yang paling terkenal di sini namanya Momo, mirip pangsit atau kotie, dan rasanya seperti hidangan Cina. Kabarnya, hampir semua wisatawan yang datang ke Nepal pasti menyempatkan diri mencicipi Momo. atau bisa juga mencicipi hidangan khas tibet yang banyak dijual di sini. Harganya pun terhitung murah.

Traveling tentu belum sempurna kalau tidak beli oleh-oleh. Yang sering dijadikan cendera mata dari Pokhara adalah berbagai jenis daun teh dari perkebunan teh yang ditanam di kaki Pegunungan Himalaya. Ada pula tas-tas kerajinan dari kain tenun. Tampaknya tak perlu menawar lagi, karena harganya sudah murah. Mata uang yang digunakan di sini adalah Nepalese Rupee.

Tiga hari di Pokhara mungkin terlalu singkat, tapi tetaplah mengesankan, terutama bagi kami yang memang ingin rehat sejenak dari ingar-bingar kota besar yang berisik dan serba bergegas. Di Pokhara, kedamaian itu bisa saya temukan—walau hanya sementara.

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Nama Lengkap*


Email*


Kode Verifikasi*

Komentar Anda

Testimonial

Facebook